Parungpanjang - Geliat ekonomi di wilayah Parungpanjang saat ini dipandang sangat menjanjikan. Salah satunya ditandai dengan menjamurnya usaha minimarket. Setidaknya terdapat 7 unit minimarket. Namun keberadaan pasar modern itu memunculkan kekhawatiran sejumlah pihak. Minimarket dipandang bisa mengancam keberlangsungan ekonomi tradisional di Parungpanjang.
Ini bisa mengancam eksistensi ekonomi rakyat seperti pasar tradisional. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah setempat dan kabupaten Bogor. Usaha minimarekt adalah salah satu bentuk ekonomi liberalis kapitalis, yang bercirikan ekonomi individualis. Betapa tidak, minimarket hanyalah dimiliki segelintir elit ekonomi tertentu yang menafikan partisipasi masyarakat luas. Masyarakat, katanya, hanyalah menjadi pembeli, bahkan terus didorong untuk berperilaku komsumtif dengan berbagai cara.

Padahal, katanya, pasar tradisional adalah kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat luas. Di pasar tradisional, katanya, bukan cuma pemodal besar yang bisa aktif, tetapi juga pemodal kecil. Berkat adanya pasar tradisional, masyarakat bisa terlibat langsung sebagai pelaku usaha, bukan cuma menjadi pembeli.

Pemerintah Bogor dan setempat harusnyalah jeli, sejumlah minimarket mengabaikan Peraturan Menteri Industrian dan Perdagangan tentang pendirian minimarket. Antara lain disyaratkan harus ada kajian tertentu dari pemerintah daerah. Seperti menyangkut masalah RDTR, kelayan izin IMB, SIUP, TDP, dan lain-lain. Masalah jarak bangunan MM juga ada aturannya, yakni minimal harus 1 km dari pasar tradisional. Tetapi yang terjadi MM di Parungpanjang malah di sekitar pasar tradisional, bahkan menghimpitnya.  Kalau mau, MM itu harus cari lokasi lain yang masih sepi biar tumbuh sektor ekonomi lainnya. Tetapi mereka malah memanfaatkan keramaian yang sudah ada, dan ini merugikan usaha tradisional.

Post a Comment